Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik

Vol. 2, No. 1, Januari 2020

 

PENERAPAN MEDIA GOOGLE CLASSROOM DI ERA PANDEMI COVID 19 PADA PEMBELAJARAN PAI

 

Oriza Aditia

Ridwan Institute Cirebon Jawa Barat, Indonesia

Email: [email protected]

 

Abstract

This study aims to know the learning process of google classroom pandemic era COVID-1, to know students' perception of pai learning implementation using google classroom era pandemic COVID-19, to know teacher perception of google classroom learning implementation pandemic era COVID-19. This type of research uses qualitative approach, the data sources in this study include primary and secondary data sources. In data collection techniques researchers use observation methods, interviews, and documentation. The data analysis in this study used flow model data analysis by Miles and Huberman. Checking the validity of data with credibility, transferability, dependanility, confirmability. The results of this study concluded that in pai materials in online learning using google classroom application is still not maximal with some obstacles from students and teachers can be seen from the preparation of both learning facilities to the learning process using google classroom application that has not been effective and still lacking. 

 

Keywords: learning islamic religious education; google classroom; Covid 19 pendemi era.

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembelajaran Google Classroom era pandemic COVID-1, untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran PAI menggunakan Google Classroom era pandemic COVID-19, untuk mengetahui persepsi guru terhadap pelaksanaan pembelajaran Google Classroom era pandemic COVID-19. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber data primer dan sekunder. Dalam teknik pengumpulan data peneliti menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data model alir oleh Miles dan Huberman. Pengecekan keabsahan data dengan credibility (keterpercayaan), transferability (keteralihan), dependanility (kebergantungan), dan confirmability (kepastian). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pada materi PAI dalam pembelajaran daring menggunakan aplikasi Google Classroom masih kurang maksimal dengan beberapa kendala dari siswa maupun dari guru dapat dilihat dari mulai persiapan baik fasilitas belajar sampai pada proses pembelajaran menggunakan aplikasi Google Classroom yang belum efektif dan masih kurang.

 

Kata Kunci: pembelajaran pendidikan agama Islam; google classroom; era pendemi COVID 19

 

Pendahuluan

World Health Organization (WHO) menginformasikan bahwa dunia akan menghadapi pandemi global yang berasal dari penyakit Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) mulai tanggal 11 maret 2020. Dampaknya akan merebak pada semua ranah salah satunya pendidikan di Indonesia (Organization, 2013).

Sesuai Melalui surat edaran Mendikbud RI No 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 dan Surat edaran Mendikbud RI No 4 Tahun 2020, yaitu tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran COVID- 19, tertanggal 24 Maret 2020, maka seluruh satuan pendidikan termasuk perguruan di Indonesia, mengambil langkah tegas atas himbauan pemerintah untuk melakukan aktivitas belajar dari rumah atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan berbasis online (RI, Lt, & Subroto, 2020). Dengan kebijakan yang sangat mendadak ini, baik guru maupun dosen dibuat gagap dan bingung dalam mencari pola atau sistem pembelajaran yang tepat agar pembelajaran jarak jauh itu bisa dilaksanakan. Akhirnya alternatif terakhir yang dapat dilakukan adalah dengan pembelajaran daring (online) (Indahningrum, 2020).

Salah satu problem yang dihadapi dunia pendidikan secara khusus pada masa pandemi COVID-19 mengharuskan semua pendidik (guru, dosen) melakukan tugas-tugas mengajar dari rumah (Marbun, 2021). Istilah -istilah seperti work from home, study at home, dan teach from home menjadi familiar ditelinga kita, pasalnya pemerintah telah memberikan aturan dan ketentuan bahwa semua kegiatan pendidikan tidak lagi dilakukan di gedung (sekolah, kampus) melainkan dari rumah secara online. Wabah pandemi COVID-19 telah mengubah kebiasaan-kebiasaan kita dengan melakukan berbagai protokol kesehatan sepeti social distancing, phisycal distancing, cuci tangan, memakai masker dll. Dunia pendidikan pun mengalami perubahan yang sangat besar, para guru dan dosen tidak lagi melakukan tugasnya di kelas-kelas pembelajaran melainkan berbasis daring (online). Istilah ini menjadi mengemuka dalam beberapa bulan belakangan ini dan diimplementasikan secara luas oleh praktisi pendidikan (Iriany, 2017). Di Indonesia wabah pandemic ini direspon oleh Mendikbud dengan memberikan policy antara lain meniadakan ujian nasional dan mengganti dengan ujian sekolah, memperpanjang masa belaku akreditasi perguruan tinggi, dan mengeluarkan petunjuk pembelajaran untuk tahun akademik 2020/2021.

Pengaruh COVID-19 tidak bisa dipungkiri telah mengubah konsep, metode dan desain pembelajaran yang ada. Ahmad Rusdiana dkk, menjelaskan bahwa masa covid 19 merubah pembelajaran konvensional, salah satu diantaranya guru, dosen dan rana didik harus terbiasa dengan pembelajaran daring. Dalam penelitian ini disebutkan masa COVID -19 secara luas mendorong guru menerapkan pola pembelajaran student center learning. Pembatasan perjumpaan guru dengan mahasiswa mengharuskan kreatifitas dan inovatif dalam mendesain pola pembelajaran. Sebelum COVID-19 merebak sebenarnya pola pembelajaran daring (online) sudah lama dikenal apalagi dipengaruhi globalisasi dan disrupsi. Tjandra menyebutkan bahwa teknologi telah menjadi keseharian bagi manusia. Dalam dunia pembelajaran istilah yang dikenal dengan pendidikan era industri 4.0, menggiring semua praktisi pendidikan termasuk mahasiswa untuk menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran. Teknologi tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan, dosen harus tebiasa menggunakan teknologi dalam pembelajaran daring (online). Layanan pendidikan dengan daring (online) pada umunya dilakukan dengan berbagai aplikasi sepeti Zoom, Google Classroom, Webex Meeting, dll. Pemanfaatannya dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Aplikasi ini bertujuan untuk mendistribusikan bahan ajar kepada mahasiswa. Keuntungan aplikasi ini tetap memberikan peluang terhubungnya dosen dan mahasiswa meskipun secara online. Hakim mengatakan Google Classrom adalah model pembelajaran kombinasi yang dikembangkan bertujuan menyederhanakan distribusi pembelajaran, layanan berbasis internet ini dirancang dengan sistem e-learning bagi para dosen dan mampu membagikan materi secara paperless. Dengan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran diharapkan delivery of learning terjamin dengan efektif (Marbun, 2021).

Pandemi covid-19 yang meluluh lantahkan sendi perekonomian dan moral bangsa tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di berbagai belahan dunia. virus Corona merupakan jenis baru dari Corona virus yang menular ke manusia (Amalia & Fatonah, 2020). Virus ini menyerang manusia melalui sistem pernafasan. Penyakit yang ditimbulkan bilamana terkena oleh virus ini dinamakan COVID-19. Selain gangguan terhadap pernafasan, virus Corona juga dapat menyebabkan pneumonia akut, sampai dengan kematian. Bangsa Indonesia tengah menghadapi virus ini sejak Maret 2020 hingga sekarang. Aktifitas lembaga pendidikan diminta untuk melaksanakan proses belajar mengajar dengan menggunakan sistem daring (Windhiyana, 2020). Begitu juga dengan perkantoran yang bertugas melakukan pelayanan jasa terhadap masyarakat diminta untuk menerapkan protokol kesehatan agar mampu meminimalisir penyebaran virus tersebut. Kondisi pandemi COVID-19 memaksa semua pihak khususnya pengajar ataupun peserta didik agar mampu menggunakan teknologi digital sebagai tuntutan untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa (Gusty et al., 2020). Namun dampak positifnya adalah bagi peserta didik semakin termotivasi untuk mengeksplorasi teknologi dan informasi, kemudian kreatifitas tersebut disalurkan melalui inovasi- inovasi ke dalam tugas yang diberikan. Musibah covid-19 tidak boleh merobek persaudaraan antar manusia terlebih lagi persaudaraan yang diikat oleh rasa nasionalisme (bertanah air satu-tanah air Indonesia). Dalam relasi sosial, setidaknya ada 2 (dua) sentimen yang bisa dibedakan yakni: Pertama, sentimen sosial yang mengikat mengikat hubungan seseorang dengan orang lain sebagai sesama warga (anggota kelompok) (Oktarina & Abdullah, 2017). Wujud implementasinya di dalam komunitas, yakni hubungan hidup (antar- individu) sehari-hari dan level relasi ini masuk pada ranah profan. Kedua, sentimen sosial yang biasa disebut dengan relasi sosial atau hubungan entitas sosial secara keseluruhan (menghubungkan antara satu komunitas dengan komunitas lainnya). Pada tahapan ini, sifat kedirian manusia ditarik secara keseluruhan dan yang muncul ke permukaan adalah kepentingan kolektif yang dibalut oleh rasa kemanusiaan hingga memunculkan rasa empati (Parinduri & Kultsum, 2020).

 

Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan- temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya dan bertujuan mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci (Sugiarto, Chung, Lai, & Chew, 2015).

Sedangkan menurut Moleong (2013: 6) bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Dalam penelitian ini akan dikaji lebih mendalam tentang pelaksanaan pembelajaran Google Classroom di era pandemi COVID- 19 materi PAI. Pada pelaksanaanya dilakukan pencarian gambaran dan deskripsi pada siswa SDIT Ibnu Khaldun untuk dijadikan sebagai subjek penelitian (Moleong, 2013).

 

Hasil dan Pembahasan

Dibawah ini akan penulis paparkan mengenai analisis pelaksanaan pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19 pada SDIT Ibnu Khaldun Pelajaran 2019/2020.

1.     Proses Pembelajaran Google Classroom Era Pandemic COVID-19 SDIT Ibnu Khaldun

Dalam melaksanakan penelitian, peneliti melakukan kegiatan observasi kegiatan pembelajaran melalui Google Classroom dan wawancara dengan wali kelas, guru mata pelajaran PAI, dan siswa. Dari hasil observasi dan wawancara diketahui bahwa hasil pelaksanaan pembelajaran Google Classroom sudah berjalan ditengah pandemi COVID-19.

Pelaksanaan pembelajaran Google Classroom ini dilaksanakan 2 kali pertemuan dalam 1 minggu, yaitu setiap pertemuan 2 jam (2x 40 menit) pada siswa SDIT Ibnu Khaldun.

Berdasarkan hasil observasi kondisi pelaksanaan pembelajaran era pandemi materi PAI terletak pada kesiapan guru dan kesiapan siswa, hasil pengamatan yang telah peneliti lakukan terhadap kesiapan guru maka terlihat bahwa guru tepat waktu dalam memulai pembelajaran hal ini menunjukkan bahwa guru telah mempersiapkan diri untuk mengajar, guru juga memiliki kemampuan untuk mengkondisikan siswa, guru juga telah mempersiapkan materi yang akan disampaikan siswa. Akan tetapi sebagian siswa masih terlambat dalam mengikuti pembelajaran hal itu menunjukkan bahwa kesiapan siswa masih kurang, meskipun sebelumnya sudah diingatkan guru di grup Whatsapp kelas sebelum memulai pelajaran.

Kondisi pelaksanaan pembelajaran pada era pandemi tersebut tidak jauh berbeda dengan pembelajaran sebagaimana ketika tatap muka di gedung sekolah, berdasarkan observasi siswa dan guru saling berinteraksi ketika proses pembelajaran pada materi PAI, pelaksanaan tersebut meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Dimana dalam kegiatan pendahuluan ini seperti biasa guru menanyakan kabar siswa, melalukan absensi, dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Pada kegiatan inti guru menyampaikan materi PAI, dalam kondisi pembelajaran jarak jauh ini materi PAI berhasil disampaikan guru dengan rinci hal itu juga ditanggapi dengan siswa. Kemudian pada kegiatan penutup guru menutup pembelajaran menyampaikan simpulan dari materi PAI yang telah dipelajari, menyampaikan materi yang akan disampaikan pada pertemuan selanjutnya dan menutup dengan doa.

Meskipun pembelajaran online akan tetapi rangkaian pelaksanaan pembelajaran yang terdapat dalam perencanaan pembelajaran sudah terlaksana dengan baik.

Pembelajaran yang ideal yaitu pembelajaran yang memperhatikan beberapa komponen yang saling terkait antara komponen yang satu dengan komponen yang lain.

Pelaksanaan pembelajaran ini meliputi beberapa komponen pembelajaran antara lain: tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, media pembelajaran, dan evaluasi dari semua komponen yang menentukan tercapainya pelaksanaan pembelajaran pada materi PAI, yang akan peneliti paparkan sebagai berikut:

1)    Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran Google Classroom materi PAI ini diharapkan pembelajaran dapat berlangsung di tengah pandemi COVID-19, tujuan pembelajaran materi PAI meliputi: peserta didik mampu mendeskripsikan karakteristik PAI.

Berdasarkan hasil observasi bahwa tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan indikator yang tertuang dalam kurikulum tercapainya tujuan pembelajaran materi PAI memberikan pengetahuan siswa, agar tujuan pembelajaran tercapai tentunya tidak lepas dari indikator materi PAI. Berdasarkan hasil observasi materi yang disampaikan guru sudah sudah sesuai dengan indikator dari materi PAI

2)    Materi Pembelajaran Materi

Materi pelajaran adalah isi dari pelajaran yang disampaikan guru kepada siswa pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dalam persiapan mengajar guru tentunya mempersiapkan materi yang akan diajarkan kepada siswa materi yang disampaikan guru kepada siswa.

Berdasarkan hasil observasi dalam penyampaian materi guru sudah menyampaikan materi dengan jelas sebagaimana hasil wawancara dengan AMSA sebagai berikut:

“Pembelajaran di Google Classroom itu menarik, dengan alasan lebih jelas gitu bu lebih simpel. Dan alhamdulillah saya bisa mencermati materi PAI yang sudah disampaikan guru.” (03/W/AMSA/30- 04-2020/R-03).

Pernyataan AMSA memiliki persamaan sebagaimana yang dikemukakan oleh MAWB sebagai berikut: Penyampaian materinya lebih terperinci.” (05-W/MABW/30-04- 2020/R-05). Kemudian berdasarkan hasil observasi pada kegiatan belajar mengajar berlangsung, seluruh materi PAI sudah disampaikan dengan rinci kepada siswa

3)    Media Pembelajaran

Media pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Siswa akan lebih mudah memahami materi jika didukung oleh media. Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran Google Classroom media yang digunakan guru yaitu berupa gambar memiliki persamaan sebagaimana hasil wawancara dengan AMSA sebagai berikut: “pembelajarannya mudah untuk dimengerti bu, karena jelas dan disertai dengan gambar bu.” (03/W/AMSA/30-04-2020/R-03)

4)    Metode Pembelajaran

Dalam pelaksanaan pembelajaran materi PAI guru menggunakan metode tanya jawab, metode ini disesuaikan dengan materi yang disampaikan, keadaan, dan situasi pada pelaksanaan pembelajaran yang sedang berlangsung.

 

 

5)    Strategi Mengajar

Hasil penelitian mengenai strategi mengajar guru dalam pelaksanaan pembelajaran dapat dibaca dari hasil wawancara sebagai berikut: “Oh kalau strategi ya, kalau strategi itu lihat bagaimana mood siswa kalau saya itu. Saya yakin bahwa sebagian siswa ini masih hal baru dengan Google Classroom karena mereka masih kelas 3 juga, maka ini hal baru, kalau strategi saya ya intinya kalau saya menyampaikan materi ya jangan terlalu banyak juga. Artinya menyampaikan poin-poinnya saja dilengkapi dengan video yang menarik ataupun gambar yang mendukung untuk materi itu, ya itu kalau saya simpel saja.” (02/W/WK/02-05-2020/R-02)

Berdasarkan wawancara dengan WK menyatakan bahwa dalam pelaksanaan guru menyampaikan poin-poin penting dilengkapi dengan media yang menarik seperti gambar atau video terkait materi pembelajaran. Hal ini sesuai dengan observasi peneliti dalam pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19 materi PAI berikut:

Berdasarkan gambar 4.4 dapat diketahui bahawa guru menyampaikan poin-poin penting dari materi PAI dan menyertakan gambar terkait materi untuk memudahkan siswa dalam memahami materi.

6)    Penilaian

Penilaian hasil belajar dilaksanakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dan mengukur kemampuan siswa dalam memahami materi.

Dibawah ini akan peneliti paparkan mengenai hasil belajar siswa dalam pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19 materi PAI, dapat dibaca dari hasil wawancara sebagai berikut: Sebagaimana hasil wawancara dengan NK sebagai berikut: “Secara umum hasilnya kurang begitu bagus untuk mencapai KKM. Secara klasikal belum mencapai KKM, walaupun secara individu banyak yang sudah tercapai.” (01/W/NK/02-05-2020/R-01). Berdasarkan hasil wawancara dengan NK memiliki kesamaan dengan hasil wawancara dengan WK sebagai berikut: “Sebagian siswa dapat mengikuti dan menyerap materi dengan baik akan tetapi secara klasikal belum mencapai KKM.” (02/W/WK/02-05- 2020/R- 02). Berdasarkan hasil evalusi yang dilakukan setelah akhir materi pada siswa kelas 3 diperoleh data sebagai berikut:

 

Tabel 1

Hasil Evaluasi

No

No Induk

Kode Siswa

Nilai

Keterangan

1

9317

Siswa 1

92

Tuntas

2

9318

Siswa 2

68

Tidak Tuntas

3

9319

Siswa 3

76

Tuntas

4

9320

Siswa 4

64

Tidak Tuntas

5

9321

Siswa 5

44

Tidak Tuntas

6

9322

Siswa 6

60

Tidak Tuntas

7

9323

Siswa 7

68

Tidak Tuntas

8

9324

Siswa 8

96

Tuntas

9

9325

Siswa 9

52

Tidak Tuntas

10

9326

Siswa 10

52

Tidak Tuntas

11

9327

Siswa 11

64

Tidak Tuntas

12

9328

Siswa 12

72

Tidak Tuntas

13

9329

Siswa 13

84

Tuntas

14

9330

Siswa 14

68

Tidak Tuntas

15

9331

Siswa 15

88

Tuntas

16

9332

Siswa 16

64

Tidak Tuntas

17

9333

Siswa 17

48

Tidak Tuntas

18

9334

Siswa 18

56

Tidak Tuntas

19

9335

Siswa 19

84

Tuntas

20

9336

Siswa 20

64

Tidak Tuntas

Jumlah

1360

Rata-rata

68

Persentase Siswa Tuntas

30 % (6 Siswa)

Persentase Siswa Tidak Tuntas

70% (14 Siswa)

 

Mengacu pada tabel 1 dapat diketahui bahwa hasil pembelajaran Google Classroom materi PAI kelas 3 masih rendah.

Dapat deketahui dari 20 siswa yang berhasil mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah 6 orang sedangkan yang belum mencapai KKM sebanyak 14 orang. Dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran PAI pada siswa kelas 3 SDIT Ibnu Khaldun tahun pelajaran 2019/2020 adalah ≥74.

Patokan pembelajaran dinyatakan berhasil secara klasikal apabila dari total 20 siswa minimal 85% mencapai KKM. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Google Classroom belum berhasil mencapai KKM secara klasikal, pelaksanaan pembelajaran Google Classroom materi PAI sebagai alternatif dalam keadaan darurat ditengah pandemi COVID-19 dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran belum tercapai.

2.     Persepsi Siswa Terhadap Pelaksanaan Pembelajaran Google Classroom Era Pandemi COVID-19 Materi PAI.

Berdasarakan hasil wawancara peneliti akan memaparkan tentang persepsi siswa terhadap pembelajaran Google Classroom era Pandemic COVID-19 materi PAI adalah sebagai berikut: 1) Materi Pembelajaran “Materi PAI sangat menarik, karena meskipun belajarnya dari rumah, tapi tetap bisa belajar bareng teman-teman dan guru.” (08/W/NAU/30-04-2020/R-08). Sejalan dengan kedua pendapat diatas, didukung oleh hasil wawancara dengan MFAF sebagai berikut: “Ya sangat menarik karena akan menghasilkan suasana yang berbeda dan mungkin akan lebih nyaman karena pembelajarannya dirumah.” (07/W/MFAF/30-04-2020-R-07).

Selain ketiga pendapat diatas MABW juga sependapat dengan paparan data diatas, dapat dilihat dari hasil wawancara sebagai berikut :

“Pembelajarannya cukup menarik karena efektif menggunakan gadget di tengah pandemi COVID-19. Penyampaian materinya lebih terperinci dan diberikan contoh gambar.” (05- W/MABW/30-04-2020/R-05).

Berdasarkan paparan data diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19 materi PAI sangat menarik bagi siswa karena menghasilkan suasana belajar yang berbeda disertai dengan penyampaian materi yang lebih terperinci dan diberikan contoh gambar

1)   Media Pembelajaran

Berdasarkan hasil wawancara diperoleh data sebagai berikut: “Iya pembelajarannya menarik karena itu menggunakan media ada gambar-gambarnya gitu” (04/W/FZK/30-04-2020). Berdasarkan hasil wawancara dengan FZK bahwa media pembelajaran pada materi PAI menarik karena disertai media berupa gambar.

1)   Faktor Pendukung

Berikut ini akan peneliti paparkan beberapa factor pendukung pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID- 19.

 

 

2)   Materi yang mendukung

Guru sudah menyampaikan materi dengan rinci sehingga siswa mudah memahaminya sebagaimana hasil wawancara dari AMSA sebagai berikut: “Faktor pendukung lebih mengerti tentang pembelajaran karena jelas dan disertai gambar” (03/W/AMSA/30-04-2020). Sependapat dengan MABW dengan hasil wawancara sebagai berikut: “Faktor pendukungnya adalah materinya lebih terperinci dan diberikan gambar sehingga lebih mudah.” (06/W/MABW/30- 04-2020).

3)   Motivasi dalam diri siwa

Adanya motivasi dalam diri siswa juga menjadi factor pendukung pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19. Yang mana keinginan siswa untuk terus belajar dan menggali pengetahuan dan juga adanya bimbingan orang tua, sebagaimana dapat dibaca berdasarkan hasil wawancara dengan FZK sebagai berikut: “Kalau faktor pendukungnya itu adanya bimbingan orang tua sama adanya keinginan saya untuk belajar dan menggali pengetahuan lebih.” (04/W/FZK/30-04-2020). Sependapat dengan NAU dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“Faktor pendukungnya yaitu belajar dengan sungguh- sungguh dan tidak bermalas-malasan”. (08/W/NAU/30-04-2020).

Dapat disimpulkan bahwa faktor pendukung dalam pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19 ini antara lain: materi yang mendukung, dan motivasi dalam diri siswa, serta adanya bimbingan langsung dari orang tua.

4)   Faktor Penghambat

Berikut ini persepsi siswa tentang beberapa faktor penghambat pembelajaran Google Classroom era pandemic COVID-19 materi PAI, yaitu:

a.     Kurangnya Manajemen Waktu

Siswa kurang memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Adapun hasil wawancara dengan AMSA sebagai berikut: “Faktor penghambat itu tidak bisa memanfaatkan waktu seoptimal mungkin” (03/W/AMSA/30-04-2020). Namun demikian dapat diatasi dengan cara lebih mengoptimalkan waktu saat belajar dengan cara mengatur jadwal sendiri dan lebih disiplin sebagaimana dapat dibaca dari hasil wawancara sebagai berikut:

“Lebih mengoptimalkan waktu agar pembelajarannya dapat terstruktur, saya mengupayakan untuk mengatur waktu sendiri bu, saya selalu menyimak dan jika telah ditentukan waktunya seperti ulangan itu saya harus disiplin bu dan terstuktur. Dan harus membaca materi bu yang ada di LKS dan jika saya tidak paham saya mencari tahu jawabannya di Google bu. Saya cukup menyimak dan dicermati gitu aja bu.” (03/W/AMSA/30-04-2020).

Dapat disimpulkan bahwa siswa kurang manajemen waktu solusinya yaitu dengan cara mengoptimalkan waktu dengan cara membuat jadwal yang terstuktur.

b.     Gangguan sekitar

Sebagaimana hasil wawancara dengan MFAF sebagai berikut: “Faktor penghabatnya susah fokus (konsentrasi) karena banyak gangguan” ( 03/W/MFAF/30-04-2020). Memiliki persamaan sebagaimana yang dikemukakan oleh NAU dari hasil wawancara sebagai berikut: “Faktor penghambatnya yaitu terkadang tidak bisa fokus karena diganggu adik solusinya yaitu bilang baik-baik sama adik, kalau adik masih menganggu pindah tempat belajar, misal pindah dikamar terus

Pintu dikunci.”(08/W/NAU/30-04-2020). Dapat disimpulkan bahwa gangguan sekitar juga berpengaruh terhadap pembelajaran Google Classroom ini sehingga siswa harus mencari tempat yang strategis agar lebih konsentrasi saat pembelajaran berlangsung.

c.     Terkendala Akses Internet

Pada sebagian siswa memang terkendala akses internet seperti jaringan yang tidak mendukung dimana pembelajaran Google Classroom ini membutuhkan akses internet, sebagaimana hasil wawancara dengan MDRR sebagai berikut:

“Faktor penghambatnya sinyal internet. jaringan tergantung cuaca.” (07/W/MDRR/30-04-2020). Sependapat dengan NAU dapat dibaca dari hasil wawancara sebagai berikut: “Terkadang sinyalnya jelek, minim kuota tetapi hal itu bisa diatasi dengan meminta teatring ibu agar proses pembelajaran dapat berjalan dan hasil pembelajaran dapat tercapai.” (08/W/NAU/30-04-202).

Kedua pendapat diatas juga didukung oleh pendapat FZK berdasarkan hasil wawancara sebagai berikut:

“Pengambatnya itu akses datanya kadang-kadang tersendat bu mungkin karena banyak orang yang pakai internet di era pandemi COVID-19” (04/W/FZK/30-04-2020).

d.     Kelebihan

Berdasarkan hasil wawancara akan dipaparkan data sebagai berikut: “Kelebihannya mudah ya dalam menerima pembelajaran dan mengerjakan tugas lewat aplikasi Google Classroom tersebut jadi lebih kaya efektif gitu lho ndak usah nyatet-nyatet.” (04/W/FZK/30-04-2020/R-04).

Berdasarkan pernyataan MDRR dapat diketahui bahwa dengan pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19 sangat efektif. Sependapat dengan kedua pendapat diatas bahwa pada hasil wawancara dengan NAU sebagai berikut:

“Kelebihannya bisa belajar kapanpun dan dimanapun, tidak banyak biaya yang di keluarkan dan sangat efektif.”

(08/W/NAU/30-04-2020/R-08). “Kelebihannya materinya rinci, ditambah dengan contoh gambar sehingga lebih memudahkan dalam memahami materi.” (05/W/MABW/30-04-2020/R-05).

Sebagaimana yang dikemukakan oleh AMSA memiliki persamaan dengan:

“Menurut saya kelebihan dari pembelajaran Google Classroom materi PAI pembelajarannya yang simpel dan mudah untuk dimengerti bu, karena jelas dan disertai dengan gambar bu.” (03/W/AMSA/30-04-2020/R-03). Hal ini sesuai dengan dokumen foto diambil saat peneliti melakukan observasi terhadap pembelajaran Google Classroom berikut:

Gambar 1

Materi Pembelajaran Disertai dengan Gambar (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

Mengacu pada gambar 1, bahwa guru sudah menyampaikan materi dengan jelas disertai dengan gambar.

e.     Kekurangan

Berikut ini akan dipaparkan mengenai persepsi siswa terhadap kekurangan dari pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19 materi PAI sebagai berikut:

“Kekurangannya seperti tidak ada praktik langsung tentang materi PAI dan sedikit membuat saya tidak paham (05/W/MABW/30-04-2020).

3.     Persepsi Guru Terhadap Pelaksanaan Pembelajaran Google Classroom Era Pandemi COVID-19.

1)  Materi Pembelajaran

Berdasarkan hasil wawancara mengenai materi pembelajaran adalah sebagai berikut: “Kalau saya menyampaikan materi ya jangan terlalu banyak juga. Artinya menyampaikan poin-poinnya saja dilengkapi dengan video yang menarik ataupun gambar yang mendukung untuk materi itu, ya itu kalau saya simpel saja.” (02/W/WK/02/05/2020).

2)  Media Pembelajaran

Berdasarkan hasil wawancara mengenai media pembelajaran adalah sebagai berikut: “Menggunakan variasi media, bisa juga lewat tulis, lewat video dan lain sebagainya yang terkait dengan materi pembelajaran. Nanti biasanya saya juga meminta mereka untuk mencari referensi sendiri terkait materi pembelajaran dan di akhiri dengan evaluasi.” (01/W/NK/02/05/2020).

Sedangkan, hasil wawancara dengan WK diperoleh data sebagai berikut: “Kalau media yang efektif tentu video, kalau kemarin kan pas kamu mengamati itu saya belum ada video, tapi saya sebenarnya sudah ada video sudah saya sampaikan ke grup Whatsapp tapi bukan bentuknya video tapi saya mencantumkan linknya.” (02/W/WK/02/05/2020)

3)  Penilaian

Berdasarkan hasil wawancara mengenai evaluasi pembelajaran diperoleh data sebagai berikut:

“Hasil materi PAI masih rendah karena mereka tidak biasa mengerjakan soal online, disamping itu juga terdapat beberapa siswa yang mengerjakan soal evaluasi susulan karena pada saat pembelajaran tidak mengikuti disebabkan terkendala dengan akses internet. disamping itu pemahaman siswa terhadap materi masih kurang” (02/W/WK/02/05/2020).

4)  Metode pembelajaran

Berdasarkan hasil observasi guru menggunakan metode pembelajaran tanya jawab, kemudian berdasarkan hasil wawancara mengenai metode pembelajaran yang sudah digunakan guru dalam pembelajaran Google Classroom materi PAI adalah sebagai berikut:

“Sejauh ini masih sedikit siswa yang aktif. Dan sebagian siswa belum terlalu aktif lah kalau menurut saya.” (02/W/WK/02/05/2020).

5)  Strategi

Berdasarkan hasil wawancara mengenai strategi diperoleh data sebagai berikut:

“Selain menggunakan Google Classroom informasi yang terkait dengan kelas yang ada di Google Classroom ini saya share juga di grup Whatsapp kelas, karena kebanyakan kalau Whatsapp itu kan pemakaian datanya rendah. Sedangkan untuk Google Classroom ini harus membutuhkan koneksi yang kuat. Jadi saya share dulu keberadaannya tentang apa-apa dan sebagainnya silahkan cek di Google Classroom, biasanya link nya juga saya share di Whatsapp dulu. Ketika terdapat siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran Google Classroom saya meminta temannya untuk mengingatkan, saling saya ingatkan sendiri lewat japri atau lewat grup Whatsapp” (01/W/NK/02/05/2020).

Hasil wawancara dengan NK memiliki persamaan dengan hasil wawancara dengan WK sebagai berikut:

Sejauh ini usaha yang saya lakukan supaya anak terbiasa dengan online saya membuat grup Whatsapp pada akhirnya ya kalau menggunakan Google Classroom itu bisa. Nah kalau Google Classroom kan sudah saya gunakan sebelumnya. nah caranya yaitu dengan komunikasi di grup Whatsapp karena lebih intens dari pada di Google Classroom.” (01/W/NK/02/05/2020).

6)  Faktor Penghambat

Berdasarkan hasil wawancara dengan NK diperoleh data sebagai berikut: “Faktor penghambat itu yang pertama adalah ketersediaan jaringan entah tidak punya pulsa tidak punya paket data atau juga mungkin di daerahnya sebagian khususnya yang ada di wilayah- wilayah yang agak dalam yang dipedesaan itu untuk ketersediaan jaringan, meskipun mereka memiliki data tetapi jaringannya lemah juga itu kendalanya disitu.”

(01/W/NK/02/05/2020). “Solusinya, saya sarankan untuk bisa ganti operator kalau memungkinkan, kalau tidak bisa ya kita maklumi karena nggak mungkin saya suruh mereka untuk pergi ke suatu tempat misalnya kerumah temannya dan lain sebagainya karena memang disarankan oleh pemerintah dan oleh madrasah bahwa siswa tetap dirumah, ya apa boleh Kami nggak bisa          apa-apa.” (01/W/NK/02/05/2020).

Sedangkan hasil wawancara dengan WK diperoleh data sebagai berikut: “Kalau penghambatnya tau sendiri ya fasilitas, itu lah yang menghambat. Karena begini, ya secara keseluruhan di Indonesia belum siap sebenarnya itu. kita mau belajar secara digital itu belum siap. Saya rasa gini pengahambat dari faktor internal kadang ada ya mata pelajaran yang lain itu kadang mereka suka kadang ada yang nggak suka, ya kalau meraka nggak suka kadang mood-mood an. Jadi, ya saya berusaha untuk memotivasi mereka juga membuat semenarik mungkin lah misalnya membuat form atau quisioner di Google Classroom atau Google Form jadi saya integrasikan kesitu, kalau Google Classroom kan materinya kalau evaluasinya di Google Form yang saya format ke kuis begitu.” (02/W/WK/02/05/2020).

7)  Faktor Pendukung

Berdasarkan hasil wawancara dengan NK diperoleh data sebagai berikut: “Hal yang membuat siswa tertarik untuk ikut di kelas Google ini karena mungkin bagi sebagian adalah hal yang baru bagi mereka rasa keingintahuan ini yang membuat mereka aktif di Google Classroom juga sifat nya interaksi yang bisa dilakukan baik dengan guru maupun siswa, jadi ketika mereka ada kesulitan atau diskusi apa yang hampir mirip dengan chatt di WA atau di Facebook itu mereka bisa comment dan lain sebagainya disitu ,mungkin itu yang menarik interaktifnya” (01/W/NK/02/05/2020).

Berdasarkan hasil wawancara dengan WK diperoleh data sebagai berikut: “Kalau faktor pendukung alhamdulillah di MTs ini itu antara wali kelas, guru mapel dan juga orang tua murid atau wali murid itu saling berhubungan saling berinteraksi, jadi meminimalisir miss komunikasi (02/W/WK/02/05/2020).

8)  Faktor Pendukung

Berdasarkan hasil wawancara terkait persepsi guru terhadap kelebihan pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19 adalah sebagai berikut:

“Secara umum untuk pemakaian Google Classroom kelas online ini saya pikir bagus. Fiturnya juga bagus, jadi untuk mengaja mereka untuk berpartisipasi lewat undangan yang kita berikan lewat Email maupun tautan seperti itu, ketika pada kondisi seperti ini, ini sangat recomended bagi saya artinya bila dibandingkan dengan media- media lain yang sifatnya hanya memberikan tugas seperti Google Classroom ini bisa memberikan materi untuk tes dan lain           sebagaianya dalam satu bingkai aplikasi.” (01/W/NK/02/05/2020/R- 01).

Pendapat NK tersebut memiliki persamaan sebagaimana hasil wawancara dengan WK sebagai berikut: “Kelebihannya itu servernya bagus, di akses lebih mudah dan tidak cepat down gitu lho walaupun banyak yang akses tapi lancar dibandingkan dengan media pembelajaran yang lain dibandingkan dengan quis slide, atau quises atau yang lainnya, Google Classroom itu paling lancar dan juga Google Classroom terintegrasi dengan Email kita jadi misalnya ada tugas atau materi yang saya sampaikan itu langsung ada pemberitahuan lewat email begitu, selain itu kalau kelebihanya dari pembelajaran Google Classroom itu saya rasa saya malah senang, karena apa yang namanya belajar online kita tidak perlu repop-repot datang ke sekolah jadi kita itu lebih efisien dalam biaya kalau menurut saya”. (02/W/WK/02/05/2020/R-02).

9)  Kekurangan

Persepsi guru terhadap pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19 materi PAI sebagaimana dapat dibaca dari hasil wawancara dengan NK sebagai berikut:

“Berbeda dengan pembelajaran langsung kalau Google Classroom ini. Jadi secara real time artinya misalnya anak yang kesulitan tidak mungkin mereka akan mendapatkan pemahaman secara langsung bagaimana ketika tatap muka jadi kadang ada penjelasan yang memang dengan mode terbatas seperti itu ya mungkin menjadikan pemahaman terhadap materi itu agak berkurang..” (01/W/NK/02-05- 2020/R-01).

Sedangkan hasil wawancara dengan WK diperoleh data sebagai berikut: “Karena ini hal yang baru bagi mereka saya memaklumi bahwa sebagian besar belum disiplin, disamping jarak jauh, dan tidak bisa tatap muka secara langsung    maka   kedisiplinan    siswa   disini   saya rasa      masih  kurang.” (02/W/WK/02-05-2020/R-01).

Berdasarkan paparan data diatas dapat disimpulkan bahwa kekurangannya secara real time seperti anak yang kesulitan terhadap materi tidak mendapatkan pemahaman secara langsung sebagaimana ketika tatap muka dan kedisiplinan siswa masih kurang.

 

Kesimpulan

Pandemi COVID 19 ini menjadi tantangan berbagai ranah khususnya pada ranah pendidikan yang tidak bisa dihilangkan total dan tidak menghilangkan esensi bagi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Untuk mengefektifkan kegiatan belajar mengajar saat pandemi COVID-19 salah satunya menggunakan pembelajaran Google Classroom era pandemi COVID-19 pada pembelajaran PAI di SDIT Ibnu Khaldun meliputi beberapa komponen pembelajaran antara lain:

Pertama, a) Tujuan Pembelajaran: tujuan pembelajaran materi tata surya ini agar siswa mampu mendeskripsikan komponen Materi PAI. b) Materi Pelajaran: guru memberikan materi yang lebih rinci sehingga dapat membantu memudahkan siswa untuk memahami materi PAI. c) Media Pembelajaran: media yang digunakan guru yaitu gambar hal itu dilakukan guru sebagai salah satu upaya untuk membantu memudahkan siswa dalam memahami materi PAI. d) Metode Pembelajaran: Dalam pelaksanaan pembelajaran guru menggunakan metode tanya jawab. Selama proses pembelajaran dengan metode tanya jawab ini siswa belum terlalu aktif, hanya sekitar 50% siswa yang aktif, sedangkan 50% siswa hanya meyimak materi yang disampaikan guru. e) Strategi mengajar: Strategi guru dalam menyampaikan materi kepada siswa yaitu dengan menyampaikan materi yang tidak terlalu banyak, menyampaikan poin-poin penting dilengkapi dengan media berupa gambar. f) Penilaian: Indikator keberhasilan klasikal dinyatakan berhasil secara klasikal apabila dari total 20 siswa minimal 85% mencapai KKM, dari 20 siswa yang mencapai KKM hanya 30% Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Google Classroom belum berhasil mencapai KKM.

 

BIBLIOGRAFI

 

Amalia, Aniq, & Fatonah, Siti. (2020). Penerapan Pembelajaran Daring Dragonlearn Pada Era Pandemic Covid-19 (Studi Kasus Di Mi Ma’had Islam Kopeng). Isej: Indonesian Science Education Journal, 1(3), 148–164.

 

Gusty, Sri, Nurmiati, Nurmiati, Muliana, Muliana, Sulaiman, Oris Krianto, Ginantra, Ni Luh Wiwik Sri Rahayu, Manuhutu, Melda Agnes, Sudarso, Andriasan, Leuwol, Natasya Virginia, Apriza, Apriza, & Sahabuddin, Andi Arfan. (2020). Belajar Mandiri: Pembelajaran Daring Di Tengah Pandemi Covid-19. Yayasan Kita Menulis.

 

Indahningrum, Rizka Putri. (2020). E-Learning Berbasis Virtual Classroom Di Era Covid-19 (Studi Kasus Mkwu Pai Di Universitas Singaperbangsa Karawang). Hawari Jurnal Pendidikan Agama Dan Keagamaan Islam, 1(2507), 1–9.

 

Iriany, Ieke Sartika. (2017). Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Revitalisasi Jati Diri Bangsa. Jurnal Pendidikan Uniga, 8(1), 54–85.

 

Marbun, Purim. (2021). Disain Pembelajaran Online Pada Era Dan Pasca Covid-19. Csrid (Computer Science Research And Its Development Journal), 12(2), 129–142.

 

Moleong, Lexy J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya..(2009). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi).

 

Oktarina, Yetty, & Abdullah, Yudi. (2017). Komunikasi Dalam Perspektif Teori Dan Praktik. Deepublish.

 

Organization, World Health. (2013). Global Tuberculosis Report 2013. World Health Organization.

 

Parinduri, Muhammad Abrar, & Kultsum, Umi. (2020). Pendidikan Islam Di Tengah Pandemi Covid-19: Upaya Membangun Empati Warga Sekolah. Ta’dib, 23(2), 133–144.

 

Ri, B. K. D., Lt, Gd Nusantara I., & Subroto, Jl Jend Gatot. (2020). Tantangan Pelaksanaan Kebijakan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Covid-19.

 

Sugiarto, Hendrik Santoso, Chung, Ning Ning, Lai, Choy Heng, & Chew, Lock Yue. (2015). Socioecological Regime Shifts In The Setting Of Complex Social Interactions. Physical Review E, 91(6), 62804.

 

Windhiyana, Ericha. (2020). Dampak Covid-19 Terhadap Kegiatan Pembelajaran Online Di Sebuah Perguruan Tinggi Kristen Di Indonesia. Perspektif Ilmu Pendidikan, 34(1), 1–8.

 

Copyright holder:

Oriza Aditia (2020)

 

First publication right:

Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik

 

This article is licensed under: